Kehidupan Swingerku (5) : Take Home Swinger

2 Komentar


Setelah beberapa waktu lalu kami tukar pasangan di Villa, kami berempat berencana untuk acara swinger dirumahku. Semuanya sudah diatur rapi. Anak anak dititipin ke rumah neneknya bersama pembantu kami. A dan istrinya sudah kami kontak untuk datang jam 10 pagi.

Tepat jam 10.15 A dan istrinya datang. Kami ngobrol-ngobrol biasa di ruang tamu. Eh, tanpa kami duga, tiba-tiba om ama tante kami datang dari Solo. Hahaha… Waduh kacau… Rencana mereka mau nginap pula. Gagal deh rencana swinger seharian kami hari ini.

Sampai siang, tante ama oom masih saja ngajak ngobrol kami berempat. Maklum lah, orang tua kalo udah lama gak ketemu ceritanya buanyak buanget. Saat akhirnya mereka masuk kamar untuk tidur siang, kami berempat cepat-cepat masuk kamar juga. Tapi rasanya nggak nyaman juga. Swinger tapi quick sex gitu… Meski harus diakui, rasa kekhawatiran kalo-kalo ketahuan orang lain membuat sensasi yang kami rasakan semakin bertambah. Hanya seperempat jam kami bercinta dengan bertukar pasangan. Setelah itu cepat-cepat pula kami keluar kamar. Saat om dan tante masih terlelap dalam tidur siangnya, A dan istrinya pamit pulang.

Keesokan paginya tante ama oom pergi ke rumah mamaku yang berjarak kira-kira satu jam perjalanan dari rumah kami. Mereka bilang mereka akan menginap di sana. Bagus lah. Berarti kami punya waktu lagi untuk acara sex tukar pasangan di rumahku. Aku mengontak A lagi. Sayangnya kejadian kemarin membuat mereka tidak nyaman. Mereka khawatir jangan-jangan om dan tante kami tiba-tiba datang lagi. Hehe..

Tiba-tiba terbetik ide gila lagi di kepalaku. Aku menawarkan istriku untuk dibawa A pulang ke rumahnya selama sehari dan istri A gantian kubawa pulang ke rumahku juga selama sehari. Gilanya, A langsung sepakat. Kami menamai permainan baru ini : take home swinger. Hehehe…

Kira-kira jam 9 pagi, A datang ke rumahku bersama istrinya. Kami pun tukar pasangan. Istriku ikut A ke rumahnya dan istri A ditinggal di rumahku. Permainan baru ini semakin menambah sensasi yang kami rasakan. Biasanya kami melihat pasangan kami disetubuhi di dekat kami, kali ini kami hanya bisa berimajinasi. Tingkat kecemburuannya jelas berbeda. Apakah istriku akan bercinta gila-gilaan dengan A? Apakah mereka akan mencoba sensasi yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya? Apakah istriku akan lebih berani mengekspresikan dirinya karena tidak ada aku? Apakah istriku akan menjadi lebih binal karena tak perlu lagi merasa sungkan padaku? Buset. Segala macam pikiran berseliweran liar di kepalaku. Aku semakin panas, dan kontolku sudah sangat tegang.

Begitu mobil A meninggalkan rumahku, aku langsung memeluk istri A dari belakang. Tanganku ketangkupkan di kedua payudaranya yang bulat dan besar. Ah, ternyata dia sudah tidak memakai beha! Tanpa berlama-lama, kami segera saling menelanjangi dan bercinta dengan berbagai gaya, posisi dan lokasi. Kami bercinta di semua ruang di rumahku. Busseet… Hot sekali permainan kami. Sampai-sampai kami tidak sempat memakai pakaian. Asal bisa ereksi, ML. Bisa ereksi, ML.  Aku sambil mbayangin lagi diapain nih istriku. Hahah…

Ketika jam makan siang tiba, aku dan istri A memutuskan untuk memesan delivery order pizza. Kami tak mau membuang waktu untuk pergi keluar rumah. Sambil menunggu pizza pesanan kami datang, aku membopong istri A ke ruang tamu. Kurebahkan ia di sofa ruang tamu dan kugenjot vaginanya dengan gaya missionari.

Sewaktu pengantar pizza datang mengetuk pintu, aku sedang gencar-gencarnya menggempur istri A. Aku hanya berteriak pada si pengantar pizza itu, “Pintunya tidak dikunci! Masuk aja!”

Pria pengantar pizza itu kaget sewaktu membuka pintu dan menemukan kami sedang bergumul di sofa. Ia melongo dan dengan kikuk berkata, “E, i..ini.. pizzanya mau diletakkan di mana, Pak?”

“Taruh situ saja,” jawabku sambil terus menggoyang istri A. “Uangnya bentar yah. Nanggung nih. Tunggu aja di sini. Duduk dulu aja.”

Pria pengantar pizza itu tidak menjawab. Ia hanya bisa terdiam melongo, lalu duduk di kursi sofa kecil tanpa sandaran. Beberapa kali ia meneguk ludah melihat tubuh istri A yang telanjang dengan payudaranya yang besar bergoncang-goncang tiap kali aku menusukkan penisku ke vaginanya.

Pikiran isengku kembali muncul. Istri A kutarik lalu kuhadapkan ke pria pengantar pizza tadi. Kudorong punggungnya hingga ia membungkuk di pangkuan pria pengantar pizza itu. Tangannya memeluk kedua paha pria pengantar pizza itu dan mukanya dibenamkan ke pangkal paha pria itu. Pria pengantar pizza itu kaget setengah mati, namun tak bisa berkutik karena kedua kakinya ditahan oleh istri A. Aku menyodok istri A dari belakang sehingga tiap kali penisku menyodok, wajah istri A tepat mengenai penis pria pengantar pizza itu yang masih berada dalam celananya. Aku berani bertaruh pasti penisnya sangat pegal karena tertahan di dalam celana dalam.

Ketika istri A mengendurkan pelukan tangannya di paha pria pengantar pizza itu, dengan cepat pria pengantar pizza itu membuka retsleting celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegang dan mengkilap-kilap basah. Tangan pria itu merengkuh kepala istri A dan menuntunnya ke arah penisnya. Istri A yang sedang melayang dalam kenikmatan tanpa berpikir mengulum penis pria pengantar pizza itu. Gerakan menyodokku membuat kulumannya juga maju mundur. Tak berapa lama, pria pengantar pizza itu memuncratkan muatannya di dalam mulut istri A. Crooootttt…

Aku masih menggoyang dua menit lagi hingga akhirnya aku juga menyemprotkan spermaku di dalam rahim istri A. Crottt…. Crot….

Istri A langsung merebahkan dirinya di sofa panjang. Posisi istri A begitu menggoda. Ia mengangkat satu kakinya ke sandaran kursi, sehingga kemaluannya dipamerkannya kepada si pengantar pizza. Kulihat penis pria pengantar pizza perlahan kembali menegang. Aku yang sebenarnya sudah mau mengambil uang untuk membayar pizza itu tiba-tiba punya ide gila lagi.

“Pengen ya, Mas?” tanyaku pada pria pengantar pizza itu yang dijawab hanya dengan senyum kikuk.

“Kamu mau?” tanyaku pada istri A. Ia masih memejamkan mata, tidak menjawab. Nafasnya yang tadi tersengal-sengal mulai teratur. Aku memberi isyarat lampu hijau pada pria pengantar pizza itu. Seperti kucing dikasih daging, pria itu langsung menerkam istri A dan melakukan penetrasi. Istri A merangkulkan tangannya ke leher pria pengantar pizza itu. Berarti ia menikmatinya. Pria pengantar pizza itu mengentot istri A sambil tangannya meremas-remas payudara istri A yang montok.

Hanya lima menit, pria pengantar pizza itu sudah mendapatkan orgasmenya yang kedua. Ia terkulai lemas di atas tubuh istri A. Setelah tenaganya pulih, ia meminta ijin ke toilet untuk membersihkan diri.

“Jangan bilang-bilang suamiku lho,” kata istri A padaku.

“Tenang aja. Ini rahasia kita berdua. Eh, bertiga maksudnya. Hehe..”

Istri A masuk ke kamar. Ia nampaknya benar-benar kelelahan dihajar dua pria siang itu.

Pria pengantar pizza itu keluar dari kamar mandi. Pakaiannya sudah rapi kembali. Aku menyiapkan uang untuk membayar pizza itu.

“Pak, e, maaf, perempuan itu tadi, bispak ya?” tanya pria pengantar pizza itu malu-malu.

“Bukan. Itu istri saya,” jawabku sambil tersenyum.

“Haaah?! Aduh, maaf, Pak! Maaf ya, Pak! Saya benar-benar tidak tahu! Maaf ya, Pak!” ucap si pria pengantar pizza berulang-ulang.

“Santai saja. Istriku nikmat kan?” tanyaku sambil menyerahkan uang pizza.

“E, i..iya, Pak.” jawabnya sambil mengulurkan tangan menerima uang.

“Jangan bilang siapa-siapa lho. Kalo sampai ada yang tahu, saya habisi kamu.”

“Em, baik, Pak.” Ia yang tadinya nampak senang sekarang nampak sedikit takut. Bagus, pikirku.

Setelah menerima uang, pria pengantar pizza itu pamit.

Aku dan istri A masih melanjutkan beberapa kali lagi persetubuhan hari itu. Kami melakukannya di kamar, di ruang tamu, di depan tivi, di ruang makan, di dapur, bahkan di kebun belakang. Ketika mandi membersihkan diri, kami masih sempat untuk ML lagi di kamar mandi.

Sorenya, aku mengantarkan istri A ke rumahnya. Dalam perjalanan aku membayangkan apa saja yang dilakukan A terhadap istriku hari ini. Apakah ia juga segila aku dan istrinya? Pikiranku campur aduk.

Sampai di sana, baru juga buka pintu aku sudah terangsang sekali ketika melihat istriku yang lagi menonton TV di ruang keluarga rumah A. Langsung kusamperin dan deep kiss. Tangan gerayangan, menelusup ke balik beha dan celana dalam lalu langsung ML position. Haha… Kami melakukan soft swinger di ruang tamu temanku… Vagina istriku terasa agak longgar. Ia pasti mengalami hari yang luar biasa hari ini. Benar benar hari yang sensasiona…

Swinger Sedarah : Istri Saya, Kakak Ipar dan Suaminya

Tinggalkan komentar


Mungkin saya termasuk aneh atau punya kelainan. Bayangkan, sudah punya istri cantik masih merindukan wanita lain. Kurang ajarnya, wanita itu adalah kakak ipar sendiri. Kalau dibanding-bandingkan maka jelas istri saya memiliki beberapa kelebihan. Selain lebih muda, di mata saya lebih cantik dan manis. Postur tubuhnya lebih ramping dan berisi. Sedangkan kakak ipar saya yang sudah punya dua anak itu badannya sedikit gemuk, tetapi kulitnya lebih mulus.

Entah apanya yang sering membuat saya membayangkan berhubungan intim dengan dia. Perasaan itu sudah muncul ketika saya masih berpacaran dengan adiknya. Semula saya mengira setelah menikah dan punya anak perasaan itu akan hilang sendiri. Ternyata lima tahun kemudian setelah punya anak berusia empat tahun, perasaan khusus terhadap kakak ipar saya tidak menghilang. Bahkan terasa tambah mendalam. Ketika menggauli istri saya seringkali tanpa sadar membayangkan yang saya sebadani adalah kakak ipar, dan biasanya saya akan mencapai puncak kenikmatan paling tinggi. Ketika bertemu saya sering secara sembunyi-sembunyi menikmati lekuk-lekuk tubuhnya. Mulai dari pinggulnya yang bulat besar hingga buah dadanya yang proporsional dengan bentuk tubuhnya.

Sesekali saya sukses mencuri lihat paha atau belahan buah dadanya yang putih mulus. Jika sudah demikian maka jantung akan berdetak sangat kencang. Nafsu saya menjadi begitu bergelora.

Pernah suatu ketika saya mengintip saat dia mandi di rumah saya lewat lubang kunci pintu kamar mandi. Namun karena takut ketahuan istri dan orang lain, itu saya lakukan tanpa konsentrasi sehingga tidak puas.

Keinginan untuk menikmati tubuh kakak ipar makin menguat. Namun saya masih menganggap itu hanya angan-angan karena rasanya mustahil dia mau suka rela berselingkuh dengan adik ipar sendiri. Namun entah kenapa di lubuk hati yang paling dalam saya punya keyakinan mimpi gila-gilaan itu akan kesampaian. Cuma saya belum tahu bagaimana cara mewujudkan. Kalau pun suatu waktu itu terjadi saya tidak ingin prosesnya terjadi melalui kekerasan atau paksaan. Saya ingin melakukan suka sama suka, penuh kerelaan dan kesadaran, serta saling menikmati.

Mungkin setan telah menunjukkan jalannya ketika suatu hari istri saya bilang kakaknya ingin meminjam VCD porno. Kebetulan saya punya cukup banyak VCD yang saya koleksi sejak masih bujangan. Sebelum berhubungan intim saya dan istri biasa nonton VCD dulu untuk pemanasan meningkatkan gairah dan rangsangan.

”Kenapa kakakmu tiba-tiba pengin nonton VCD gituan ?” tanya saya pada istri saya.

”Nggak tahu.”

”Barangkali setelah sterilisasi nafsunya gede ya?” komentar saya asal-asalan.

Beberapa keping VCD pun saya pinjamkan. Ini salah satu jalan untuk mencapai mimpi saya. Tetapi harus sabar karena semua memerlukan proses dan waktu agak panjang. Setelah itu secara rutin kakak ipar saya meminjam VCD porno. Rata-rata seminggu sekali.

”Dia lihat sendiri atau sama suaminya ?” tanya saya.

”Ya sama suaminya dong,” jawab istri saya.

”Kamu cerita sama dia ya sebelum main kita nonton VCD biru ?”

”Iya …,” jawab istri saya malu-malu.

”Wah rahasia kok diceritakan sama orang lain.”

”Kan sama saudara sendiri nggak apa-apa.”

”Eh … kamu bilang sama dia, kapan-kapan kita nonton bareng yuk …”

”Maksudmu ?”

”Ya dia dan suaminya nonton bareng sama kita.”

”Huss … malu ah …”

”Kenapa malu ? Toh kita sama-sama suami istri dan seks itu kan hal wajar dan normal …”

Sampai di situ saya sengaja tidak memperpanjang pembicaraan. Saya hanya bisa menunggu sambil berharap mudah-mudahan saran itu benar-benar disampaikan kepada kakaknya.

Sebulan setelah itu kakak ipar dan suaminya berkunjung ke rumah kami dan menginap. Istri saya mengatakan mereka memenuhi saran saya untuk nonton VCD porno bersama-sama. Diam-diam saya bersorak dalam hati. Satu langkah maju telah terjadi. Namun saya mengingatkan diri sendiri, harus tetap sabar dan berhati-hati. Kalau tidak maka rencana bisa buyar.

Malam itu setelah anak-anak tidur kami nonton VCD porno bersama-sama. Saya lihat pada adegan-adegan yang hot kakak ipar tampak terpesona. Tanpa sadar dia mendekati suaminya. Beberapa VCD telah diputar. Tampak nafsu mereka sudah tak terkendali. Saling mengelus dan meremas. Istri saya juga demikian. Sejak tadi tangannya sudah menelusup di balik sarung saya memegangi senjata kebanggaan saya.

”Mbak silakan pakai kamar belakang,” kata saya kepada kakak ipar setelah melihat mereka kelihatan tak bisa menahan diri lagi.

Tanpa berkata sepatah pun kakak ipar menarik tangan suaminya masuk kamar yang saya tunjukkan.

”Sekarang kita gimana ?” tanya saya menggoda istri saya.

”Ya main dong …”

Kami berdua segera masuk kamar satunya lagi. Anak-anak kami kebetulan tidur di lantai dua sehingga suara-suara birahi kami tak akan mengganggu tidur mereka.

Ketika saya berpacu dengan istri saya, di kamar belakang kakak ipar dan suaminya juga melakukan hal serupa. Jeritan dan erangan kenikmatan wanita yang diam-diam saya rindukan itu kedengaran sampai telinga saya. Saya pun jadi makin terangsang. Malam itu istri saya kembali saya bayangkan sebagai kakak ipar. Saya bikin dia orgasme berkali-kali dalam permainan seks yang panjang dan melelahkan tetapi sangat menyenangkan.

Selanjutnya kegiatan bersama itu kami lakukan rutin, minimal seminggu sekali. Sesekali di rumah kakak ipar sebagai variasi. Dua keluarga tampak rukun, meski diam-diam saya menyimpan suatu keinginan lain.

Saat anak-anak liburan sekolah saya mengusulkan wisata bersama ke daerah pegunungan. Istri saya, kakak ipar dan suaminya setuju. Tak lupa saya membawa beberapa VCD porno baru pinjaman teman serta playernya. Setelah seharian bermain kesana-kemari anak-anak kelelahan sehingga mereka cepat tertidur. Apalagi udaranya dingin. Sedangkan kami orang tua menghabiskan malam untuk mengobrol tentang banyak hal.

”Eh … dingin-dingin begini enaknya nonton lagi yuk,” kata saya.

”Nonton apa ?” tanya suami kakak ipar.

”Biasa. VCD gituan. Kebetulan saya punya beberapa VCD baru.”

Mereka setuju.

Kemudian kami berkumpul di kamar saya, sedangkan anak-anak ditidurkan di kamar kakak ipar yang bersebelahan. Jadilah di tengah udara dingin kami memanaskan diri dengan melihat adegan-adegan persetubuhan yang panas beserta segala variasinya.

Sampai pada keping ketiga tampak kakak ipar sudah tak tahan lagi. Dia merapat ke suaminya, berciuman. Istri saya terpengaruh. Ia mulai meraba-raba selangkangan saya. Senjata kebanggaan saya sudah mengeras.

”Ayo kita pindah ….” bisik istri saya.

”Husss .. pindah kemana. Di sebelah ada anak-anak. Di sini saja.”

Akhirnya kami bergulat di sofa. Tak risih meski di tempat tidur tidak jauh dari kami kakak ipar dan suaminya juga melakukan hal serupa. Bahkan mereka tampak sangat bergairah. Pakaian kakak ipar sudah tak karuan lagi. Saya bisa melirik paha dan perutnya putih mulus. Mereka berpagutan dengan ganas sehingga sprei tempat tidur juga awut-awutan.

Istri saya duduk mengangkangkan paha. Saya tahu, ia minta dioral. Mulut dan lidah saya pun mulai mempermainkan perangkat kelaminnya tanpa melepas celana dalam.

”Ohhhh … terus .. enakkkkkk, Mas ….” lenguh istri saya merasa sangat nikmat.

Sementara itu ekor mata saya melirik aksi kakak ipar dan suaminya yang berkebalikan dengan saya dan istri. Kakak ipar tampak amat bergairah mengaraoke penis suaminya. Saya pun melanjutkan menggarap vagina dan wilayah sekitarnya milik istri saya.

Lidah saya makin dalam mempermainkan lubang, mengisap-isap, dan sesekali menggigit klitoris.

”Ooh … ahhhhh …. ahhhh ……..” istri saya mengerang keras tanpa merasa malu meski di dekatnya ada kakak kandungnya yang juga sedang bergulat dengan suaminya. Satu demi satu saya lepas pakaiannya yang menghalangi. Pertama celana dalamnya, lalu rok bawahnya. Lenguhan istri saya bersahut-sahutan dengan erangan suami kakak ipar.

Beberapa saat kemudian posisi berubah. Istri saya gantian mengulum penis saya, sedangkan suami kakak ipar mulai menggarap kelamin istrinya. Erangan saya pun berlomba dengan erangan kakak ipar.

Setengah jam kemudian saya mulai menusuk istri saya. Tak lama disusul suami kakak ipar yang melakukan hal serupa terhadap istrinya.

Lenguhan dua perempuan kakak beradik yang dilanda kenikmatan terdengar bergantian.

”Mas, batangmu enakkk sekali ….”’ bisik istri saya.

”Lubangmu juga enak,” jawabku sembari menaikturunkan pinggul tanganku meremas-remas payudara istri saya yang meski tidak terlalu besar tetapi padat dan tampak merangsang.

Setelah beberapa saat bertahan dalam posisi konvensional, lalu saya memutar tubuh istri saya dan menyetubuhi dari belakang. Saya melirik ke tempat tidur. Posisi kakak ipar berada di atas suaminya. Teriakan dan gerakan naik turunnya sangat merangsang saya untuk merasakan betapa enaknya menyetubuhi kakak ipar. Namun saya harus menunggu saat yang tepat.

Kira-kira ketika istri saya, kakak ipar dan suaminya sudah berada di dekat puncak kenikmatannya, sehingga kesadarannya agak berkurang. Sambil menggenjot istri saya dari belakang saya terus melirik mereka berdua. Entah sudah berapa kali istri saya mencapai puncaknya, saya sudah tak begitu memperhatikan lagi.

”Ayo kita ke tempat tidur,” bisik saya pada istri saya.

”Kan dipakai …. ”

Saya segera menggendong tubuhnya, lalu menelentangkan di tempat tidur di samping kakaknya yang sedang digarap suaminya. Mula-mula keduanya agak kaget atas kehadiran kami. Tetapi kemudian kami mulai asyik dengan pasangan masing-masing. Tak perduli dan tak malu. Malah suara-suara erotis di sebelah kami makin meningkatkan gairah seksual.

Di tengah-tengah nafsu yang menggelora saya menggamit suami kakak ipar saya. Dia menoleh sambil menyeringai menahan nikmat. ”Ssst … kita tukar ….” ”Hhhh …. ” dia terbengong tak paham. Lalu saya mengambil keputusan. Penis saya cabut dari vagina istri saya, kemudian bergeser mendekati kakak ipar saya yang masih merem-melek menikmati tusukan suaminya.

”Mas sama istri saya, saya gantian dengan Mbak …,” kata saya.

Tanpa memedulikan kebengongannya saya langsung memeluk tubuh mulus kakak ipar yang sudah sekian lama saya rindukan. Saya ciumi lehernya, pipinya, bibirnya, dan saya kulum puting susunya yang mengeras. Mula-mula kakak ipar saya kaget dan hendak memberontak. Tapi mulutnya segera saya tutup dengan bibir saya. Kemudian penis saya masukkan pelan-pelan ke vaginanya yang telah basah kuyup. Setelah itu saya melakukan gerakan memompa naik-turun sambil sesekali memutar.

Ternyata vaginanya masih sangat enak. Untuk menambah gairah kedua payudaranya saya remas dan sesekali saya gigit putingnya.

”Ohhh …. ahhhh ….. hhhhh … shhhh ….” suaranya mulai tak karuan menahan gempuran hebat saya.

Di samping saya, suami kakak ipar saya tampaknya juga tak mau kehilangan waktu percuma. Dia pun menyetubuhi istri saya dengan penuh semangat. Tak ada keraguan lagi. Yang ada hanya bagaimana menuntaskan nafsu yang sudah memuncak di ubun-ubun.

Saya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Impian menggauli kakak ipar kesampaian sudah. Hampir satu jam kami bertempur dengan berbagai gaya. Mulai konvensional, miring, hingga menungging. Suami kakak ipar saya lebih dulu menyelesaikan permainannya. Beberapa menit kemudian saya menyusul dengan menyemprotkan begitu banyak sperma ke dalam vagina kakak ipar saya. Rasanya belum pernah saya mengeluarkan begitu banyak sperma sebagaimana malam itu. Kakak ipar pun tampak melenguh puas. Vaginanya menjempit penis saya cukup lama.

Setelah peristiwa malam itu, kami menjadi terbiasa mengadakan hubungan seks bersama-sama dan bisa ditebak akhirnya kami bertukar pasangan secara sukarela. Tak ada paksaan sama sekali. Tanpa kami sadari, kini kami menjadi pasangan swinger yang begitu menikmati hubungan seks tukar pasangan ini..

- tamat -

Kehidupan Swingerku (4) : Tukar Pasangan di Villa

5 Komentar


Beberapa waktu kemudian, A mengontak kami untuk mengadakan acara swinger lagi. But this time not just soft swinger anymore. Kita akan benar-benar tukar pasangan. Hard swing… Kami begitu excited dengan rencana itu. Kemudian kami mengatur kesepakatan kapan kami akan melakukan rencana itu.

Pada hari yang telah kami sepakati, kami menyewa villa di sebuah kota untuk melaksanakan rencana kami. Dalam perjalanan saya dan istri menuju villa, banyak hal kami bicarakan. Antara lain, agar kami tidak menjadi korban penjahat swinger, kami menyepakati untuk membatasi pasangan swinger kami. Untuk sementara ini kami hanya punya A dan adik saya. Tujuan kami agar kami tidak asal-asalan dan ugal-ugalan dalam menjalani gaya hidup swinger ini. Swinger adalah pilihan gaya hidup yang elegant, bukan liar-liaran tanpa aturan.

Sampai divilla, ternyata A dan istrinya sudah berada disana. Aku dan A mengobrol di ruang tamu, sementara istriku menyiapkan makanan bersama istri A di dapur. Kemudian A meminta izin untuk ke dapur untuk mengambil minum katanya. Aku sendirian menonton TV. Tak lama kemudian istri A datang menemaniku.

“Loh, mana suamimu?”

“Tuh… Lagi indehoy…” Istri A menunjuk dengan kepalanya ke arah dapur.

Aku melongok ke dapur. Lah.. Ternyata A sedang memeluk istriku dari belakang sambil menciumi lehernya yang putih mulus.. Haha.. ternyata sudah mulai to..

Tanpa pikir panjang aku kembali ke ruang TV. Kutarik istri A mendekat. Aku ciumi lehernya.. Ia mendesah geli ketika  ciumanku mulai menyentuh telinganya. Desahannya makin keras ketika tanganku mulai masuk ke dalam bajunya. Tangan kananku menelusup ke dalam branya, meremas lembut payudaranya yang berukuran jumbo itu. Sementara tangan kiriku memainkan keahliannya untuk melepas kaitan tali behanya hanya dengan satu jepitan jari..

Tangan istri A mulai meraba celanaku, mencoba menggenggam penisku yang tak muat lagi dalam celana dalamku. Ia lalu memasukkan tangan kanannya ke dalam celanaku dan menarik keluar penisku yang sudah sangat tegang. Lalu ia mengoralku..

Agak beda rasanya dengan kuluman istriku, karena ia tak menggunakan gigi. Saat ia mengoral, aku menarik bajunya ke atas. Ia menghentikan sejenak kulumannya dan membantuku melepas bajunya.. Wow. Payudaranya benar-benar besar. Ia melanjutkan kulumannya, sementara aku mengelus rambutnya sambil meremas lembut buah dadanya itu..

Kulihat A menarik istriku keluar dapur menuju ruang makan. Di ruang makan yang terlihat jelas dari ruang TV tempatku sedang dioral, A mengeksekusi istriku. Istriku meletakkan tubuhnya di meja makan, lalu A menyikat istriku dari belakang.. Mereka belum naked. Cuma celana istriku sudah terlepas.. Rupanya mereka sudah mencoba eksekusi di dapur tapi mungkin karena tempatnya tidak nyaman mereka berpindah ke ruang makan. Sepertinya A sudah penasaran sekali pingin merasakan empotan vagina istriku…

Saat istri A mengoral aku, kumasukkan jariku ke vaginanya… Dia menggelinjang ketika kubisikkan di telinganya, “Bayangkan kamu sedang mengoral sambil dientot dari belakang juga..”

Nampaknya imajinasi itu membuat dia bertambah bergairah dalam mengoral.. Istria A punya kelebihan yang tidak dipunyai istriku. Ia bisa mengoral penisku sampai pangkal batangnya. Rasanya sensasional sekali. Seluruh penisku masuk ke dalam mulutnya.

Saat kami sedang ML dengan posisi WOT, aku mendengar A melenguh. Rupanya A sudah orgasme. Padahal kami belum apa-apa… Aku memang punya ciri, kalau di WOT atau dioral bisa lama, tapi kalau sudah di atas, aku cepat keluar. Makanya biasanya aku pilih posisi WOT dulu, baru setelah partner seksku orgasme aku hajar dia dari segala posisi.

Melihat kami masih ML, rupanya istriku “naik” lagi. Sayangnya A belum siap. Penisnya masih menggantung. Meski masih besar namun lemas sehingga tidak memungkinkan untuk penetrasi.

Istriku menarik A ke dekat kami lalu mencoba merangsangnya. Terjadilah aktifitas sexual kami berempat dengan hampir tak berjarak. Saat aku sedang ML dalam posisi WOT, aku masih sempat meremas pantat istriku.. A yang penisnya sudah kembali tegang menelentangkan istriku tepat di sampingku lalu menghajarnya tanpa ampun. Hantaman penisnya dalam vagina istriku yang sudah becek karena sperma mengeluarkan bunyi “Clep! Clep! Clep! Clep!” yang menambah panas suasana. Payudara istriku bergoyang naik turun tiap kali A menyodokkan penisnya ke dalam vagina istriku. Aku lalu berganti posisi sehingga istri A kini telentang bersebelahan dengan istriku. Aku dan A berlomba menyodok istri-istri kami. Rasanya begitu sensasional melihat istriku bersetubuh dengan orang lain tepat di depan mataku. Rasa marah dan cemburu yang muncul tiap kali kulihat istriku nampak merem melek menikmati sodokan-sodokan A kulampiaskan dengan menghantamkan penisku makin keras ke dalam tubuh istri A. Tiba-tiba A merebahkan tubuhnya memeluk istriku lalu keluar lebih dulu. Melihat istriku memeluk A dengan hotnya, aku tak tahan lagi. Aku pun menyusul orgasme. Sangat-sangat sensasional.

Aktivitas swinger kami ulangi beberapa kali dengan berbagai variasi sampai kami benar-benar kelelahan. Bahkan hingga matahari terbenam, kami sama sekali tidak sempat memakai pakaian.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 149 pengikut lainnya.