Awal kami swinger di mulai saat kami sudah merasa kehidupan sex kami sampai pada titik jenuh. Jelas yang berfikir awal adalah aku. Aku beruntung punya istri yang bisa memahami bahwa swinger adalah sebuah solusi. Tetapi kenikmatan swinger yang kami bayangkan ternyata nggak semudah dalam mewujudkannya. Mencari pasangan swinger yang sehat dan berfikiran sama dengan kami bukanlah hal mudah.

Sebelumnya kami browsing di internet, ada beberapa kasus yang sempat membuat kami takut bahwa banyak “penjahat” yang bermain di dunia swinger.

  1. Pemeras : mereka diam diam merekam kegiatan kita dan memeras sejumlah uang, kalau tidak rekaman akan disebarkan
  2. Amatir : mereka bayar WP yang diakuinya sebagai istrinya, jadi kita ML dengan WP, dia dapat istri kita

Dua jenis penjahat itu yang harus diwaspadai, begitu kata mbah google.
Akhirnya kami sangat hati hati mencari pasangan swinger, apalagi dalam keadaan sosial budaya kita yang belum siap menerima fantasi ini sebagai sebuah solusi.

Sempat saya dan istri saya mengadakan diskusi tentang swinger yang akan kami jalani, akhirnya pada kesimpulan bahwa swinger adalah solusi yang fair bagi kejenuhan kehidupan sex kami. Mengapa begitu? Karena kami bisa menikmati bersama. Saya dan istri saya. Bersama.

Lama juga kami berkutat dalam mencari pasangan, sampai suatu ketika ada hal yang justru tak terduga membantu kami melaksanakan swinger.

A,  teman kami sejak kami kuliah, datang berkunjung dengan istrinya ke rumah kami. Awalnya kami tidak berfikir macam macam. Kami anggap sebagai teman yang berkunjung.

Kami ngobrol sampai tengah malam, kami menawari untuk tidur dirumah kami,mereka setuju. Sewaktu saya dan istri saya menyiapkan kamar tidur, tiba tiba saya terfikir untuk tidur bersama dengan mereka, saya sampaikan kepada istriku, dia mengerti kemana arahnya. Lalu saya keluar kamar, saya tawarkan bagaimana kalau kita tidur di depan tv saja, rame, jadi bisa kita sambil ngobrol, syukurlah mereka setuju.

Kami gelar karpet, saya keluarkan 2 springbed kami di depan tv, antar spring bed ada jarak kira kira 1 meteran.

Kami akhirya nonton tv bersama, sambil masih mengobrol, sampai kira kira jam setengah 2 malam. Saat topik sudah habis, lampu kami padamkan, jadi hanya sinar dari layar tv saja yang menerangi kami. Sungguh itu saat yang mendebarkan buatku, karena ini sebuah gambling. Andai pasangan teman saya itu bisa menerima, it will be easy. Kalau tidak, bencana seumur hidup.

Akhirnya hilang nyaliku untuk membicarakan swinger kepada A. Akhirnya kami biarkan mereka tidur.

Saat mereka sudah tenang, tanganku mulai menggerayangi tetek istriku. Dia mengerti, kami akhirnya berciuman. Mungkin ciuman kami begitu serunya sehingga kami tidak perduli lagi dengan suara yang keluar. Sampai disitu saja kami merasa sensasional, karena berciuman dekat dengan orang lain walaupun tidur.

Kami masih berciuman saat kami lihat istri A keliatan gelisah. Saya memberi kode pada istri, dan istri sempat agak berhenti. Ia jadi nervous. Tapi sedikit saya paksa, maka kami lanjutkan ciuman kami.

Di remang cahaya tv, kami melihat istri A mulai menciumi leher suaminya. Kami makin menjadi, tapi belum berani kami lepas baju.

Akhirnya  dengan sedikit “arahan”, kupelorotkan celana kolorku tapi masih kututupi dengan selimut. Tangan istriku kuarahkan ke celana agar ia tahu bahwa aku sudah lepas celana. Lalu sedikit kutarik kepala istriku, bermakna minta dioral .

Kami lihat A dan istrinya juga sudah berciuman.

Istriku mulai mengoral, tapi dengan membelakangi mereka. Sungguh benar benar sensasional.

Kami lihat istri A juga mulai mengoral.

Akhirnya saya dan istri ML, dengan cara dari belakang tapi masih kami tutupi selimut.

A juga melakukan hal yang sama. Dalam beberapa gerakan terkadang selimut mereka tersingkap, karena mereka memang pasangan yang agak “subur”. Tampak paha istri A yang benar benar putih, membuat aku jadi kalap dalam melakukan ML dengan istri.

Akhirnya aku dan istriku orgasme. Tak lama disusul mereka. Kami masih terdiam, aku dan istriku tidur berpelukan.

Betapa kagetnya saya bangun pagi harinya, karena selimut kami tersingkap. Aku masih tidak pakai celana, dan istriku dasternya tersingkap tanpa celana dalam. Aku lihat sebelah, mereka masih tidur.

Aku bangunkan istriku, kuajak ML lagi. Kali ini tidak pakai selimut.. Akhirnya kami ML dengan posisi WOT, tapi masih pakai baju. Istriku juga masih pakai daster, tapi kami tidak pakai selimut dan keadaan sudah terang.

Beberapa kali saya melirik mereka. Kami tahu pasangan sebelah kami mencuri pandang, tapi kami makin bersemangat. Sampai akhirnya kami mencapai orgasme…

Benar benarnya kami merasakan kenikmatan yang lama tak kami rasakan…

….

Paginya sarapan bersama. Tak satupun diantara kami membicarakan kejadian semalam…

Seolah bersikap biasa, tapi kami yakin A dan istrinya takkan pernah sama lagi dengan saat ia datang kerumah kami.